Ayah yang Bertumbuh: Menemukan Kekuatan Baru untuk Keluarga yang Lebih Bahagia

Peran ayah sama pentingnya dengan peran ibu dalam tatanan keluarga. Di tengah dunia yang terus bergerak cepat dengan berbagai tantangannya, bercampur dengan harapan dan pembandingan dari orang atau keluarga lain, ada peran idealis sosok ayah dan ibu yang mulai bergeser. Terkadang, dalam hidup seorang ayah atau ibu, ada masa-masa yang sangat berat. Terutama bagi seorang ayah, ketika penghasilan yang diperoleh untuk menggerakkan ekonomi keluarga tidak sesuai dengan harapan. Di sisi lain, pasangannya atau keluarga terdekat justru bergerak maju dengan prestasi dan perannya. Melihat hal ini, hati ayah bisa terasa berat. Terlebih, ayah sering kali memikul harapan besar sebagai pemimpin dan pencari nafkah. Banyak ayah yang kemudian mulai meragukan diri sendiri, merasa tidak berguna, merasa kalah dari pasangan, atau takut dianggap gagal oleh keluarga maupun lingkungan. Perasaan-perasaan ini diam-diam tumbuh menjadi overthinking yang melelahkan, membuat ayah sulit tidur, mudah tersinggung, dan mudah meledak dalam konflik kecil.

Sayangnya, sebagian dari tekanan tersebut keluar dalam bentuk perilaku yang menyakiti orang terdekat, seperti bicara kasar, merendahkan pasangan, nada tinggi, atau sikap dingin yang menyakitkan. Padahal, perilaku tersebut bukanlah cerminan kekuatan, melainkan menunjukkan bahwa ayah sebenarnya sedang terluka dan tidak tahu bagaimana mengelola rasa takut, rasa malu, dan rasa tidak berdaya dalam dirinya. Di balik sikap keras itu, sebenarnya ada hati yang bingung mencari arah. Padahal, pada saat yang bersamaan, peran ayah dalam pengasuhan dengan emosi yang stabil dan pikiran jernih sangat dibutuhkan dalam keluarga. Dalam dekade terakhir, peningkatan literatur telah menggambarkan keterlibatan ayah sebagai faktor kunci yang berkontribusi pada dinamika keluarga yang positif dan perkembangan anak yang lebih baik (Sona, Irawan, dan Widyatmoko, 2024).

Tekanan dan kebingungan yang dirasakan ayah ini sangat berdampak pada keluarga. Istri merasa tidak aman, anak belajar bahwa berbicara keras adalah hal yang biasa, dan suasana rumah menjadi tegang. Hal yang paling menyedihkan adalah bahwa, di saat ayah ingin dihormati, justru perilaku kasar yang semakin menjauhkan hubungan dengan keluarga. Ayah pun akhirnya semakin merasa gagal, semakin merasa kalah, dan semakin tertekan.

Penelitian modern yang mengkaji situasi psikologis yang kompleks menunjukkan bahwa kekuatan keluarga tidak semata-mata diukur dari materi, melainkan dari kehadiran emosional, pengasuhan aktif, serta komunikasi dan dukungan dalam keluarga. Oleh karena itu, ada beberapa langkah yang dapat diambil untuk menuju keluarga yang harmonis:

Langkah pertama menuju kesembuhan adalah keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri. Mengakui bahwa “Aku sedang tertekan, dan aku perlu berubah” bukanlah kelemahan, melainkan kekuatan sejati. Bukan pekerjaan yang menentukan harga diri ayah, tetapi bagaimana ia memperlakukan keluarganya. Kepemimpinan tidak diukur dari seberapa besar penghasilan, tetapi dari seberapa besar adab, kesabaran, dan keteladanan yang diberikan kepada pasangan dan anak-anak.

Kedua, ayah perlu berhenti membandingkan diri dengan istri atau orang lain, berhenti merasa tersaingi, dan berhenti merasa kalah. Istri bukanlah kompetitor, melainkan mitra yang sedang berjuang bersama. Sosok ayah lain yang terlihat ideal bukanlah template yang harus “sama”, tetapi bisa diadaptasi sesuai dengan karakter keluarga. Ayah dapat mengomunikasikan segala hal dengan kejujuran dan kelembutan sebagai awal perbaikan. “Mengungkapkan rasa takut tanpa marah, menjelaskan tekanan tanpa menyerang, dan mendengarkan tanpa defensif”. Perilaku keberanian ini dapat dicontohkan oleh anak dan pasangannya, bahkan dalam penelitian (Yulina et al., 2025) menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki sosok ayah dalam kehidupan mereka cenderung memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi, kestabilan emosi yang baik, serta kemampuan adaptasi yang kuat.

Langkah berikutnya, pemaknaan pada ritual ibadah. Ibadah adalah jalan yang sangat kuat untuk penyembuhan, bukan sekadar pelarian. Ketika ayah sedang tertekan, dengan memperbanyak shalat, bersedekah, dan membaca Al-Qur’an, harus dipahami bahwa ibadah yang berkualitas akan membentuk akhlak, menenangkan hati, melembutkan bahasa, dan menahan emosi. Ibadah seharusnya membuat sikap lebih lembut, bukan semakin kasar. Jika ibadah belum memperbaiki perilaku, berarti ada niat yang perlu diperbaiki: bukan sekadar menggugurkan kewajiban, tetapi memohon perubahan diri.

Ketika ayah mulai memahami perasaannya, mengelola pikirannya, memperbaiki komunikasinya, dan memaknai ibadah sebagai jalan penghalus akhlak, perlahan-lahan suasana keluarga berubah. Suara menjadi lebih lembut, pikiran lebih tenang, hubungan dengan istri lebih hangat, dan anak-anak kembali merasakan kehadiran ayah yang aman dan menyayangi mereka.

Pada akhirnya, setiap ayah berhak untuk bangkit. Keberaniannya untuk berubah, memperbaiki diri, dan kembali menjadi sumber ketenangan bagi keluarganya. Rumah yang damai biasanya dimulai dari hati ayah yang sembuh.

 

Oleh Yudha Aviratri, Kaprodi PG-PAUD STPHBK

Pada Program Studi PG-PAUD dan PGSD STPHBK terdapat kajian ilmiah terkait peran orang tua, Ayah dan Ibu dalam Pengasuhan dan terakomodir dalam Mata Kuliah Psikologi Perkembangan serta Pengasuhan Holistik Anak Berbasis Karakter.

 

 

Referensi:

Bimbingan, J., Islam, K., & Counseling, F. (2024). Ghaidan Keterlibatan Ayah Dalam Proses Konseling Keluarga : Dampak.

Yulina, C., Kuntari, S., Sosiologi, P., Ageng, U. S., Serang, K., Mental, K., Emosional, D., & Sosiologi, P. (2025). Peran ayah dalam membangun kesehatan mental keluarga pada mahasiswa pendidikan sosiologi angkatan 2022 universitas sultan ageng tirtayasa 1.2. 4(2), 221–228. https://doi.org/10.55123/sabana.v4i2.5148

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *