Yudha Aviratri, Dosen STPHBK berhasil Memaparkan Riset Kolaboratif di IRECE 2025 Jakarta

Yudha Aviratri, Dosen STPHBK berhasil Memaparkan Riset Kolaboratif di IRECE 2025 Jakarta

Jakarta, 20–22 November 2025 — Konferensi International Research in Early Childhood Education (IRECE) 2025 resmi diselenggarakan di Mercure Hotel Ancol, Jakarta. Acara bergengsi yang diinisiasi oleh Monash University bekerja sama dengan Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini menghadirkan pakar pendidikan anak usia dini dari berbagai negara, mengusung tema besar, “Play, Learning and Children’s Development: Diversity in Practice.”

Konferensi tahun ini diikuti oleh 90 pemakalah dan 46 peserta dari 29 institusi Indonesia serta 10 institusi luar negeri. Empat keynote speaker internasional turut hadir, di antaranya Prof. Marilyn Fleer, Prof. Ditte Winther-Lindqvist, Prof. Juliana Pasqualini, serta Assoc. Prof. Ade Dwi Utami dan kegiatan dibuka oleh Prof. Sofia Hartati, M.Si.

Dalam salah satu sesi parallelnya, Yudha Aviratri dari STPHBK PAUD mempresentasikan penelitian berjudul “Model Sistem Penjaminan Mutu Internal Terpadu Sekolah Karakter”, hasil kolaborasi bersama mahasiswa Naora Vanesa Ghissani Iftikhar. Penelitian ini mengidentifikasi bagaimana lembaga PAUD dapat membangun Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) secara mandiri, efektif, dan berkelanjutan. 

Hasil penelitian mengungkapkan bahwa, (1) PAUD di Indonesia Umumnya Masih Bergantung pada Mutu Eksternal. Mayoritas lembaga PAUD masih mengandalkan akreditasi BAN PAUD dan supervisi dari dinas sebagai standar mutu. Sementara mutu internal belum menjadi prioritas dan belum dijadikan keunggulan atau identitas lembaga. (2) Sekolah Karakter Menjadi Contoh Praktik Baik SPMI Terpadu di PAUD. Penelitian menyoroti keberhasilan Divisi Penjaminan Mutu PHBK Sekolah Karakter, unit khusus yang memastikan pembelajaran dilaksanakan sesuai standar sekolah. Divisi ini menjalankan siklus SPMI lengkap: perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, pengendalian, dan peningkatan mutu. (3) Divisi Penjaminan Mutu Sekolah Karakter (DPM-SK) Memiliki Peran Strategis. Temuan penelitian menunjukkan bahwa DPM-SK, adalah (a) membuat instrumen monitoring&evaluasi, (b) mengelola data mutu pembelajaran, (c) memberikan rekomendasi tindak lanjut, (d) menyusun modul PHBK, dan menjadi tim konseptor pelatihan guru baru di Sekolah Karakter. Peran ini selaras dengan literatur internasional tentang pentingnya quality culture dalam lembaga pendidikan. (4) Rubrik Penilaian Guru Menjadi Inovasi Kunci. Penelitian juga menampilkan rubrik komprehensif yang mengevaluasi kualitas guru dan pembelajaran, meliputi: karakter dan keteladanan guru, komunikasi efektif, manajemen kelas, kegiatan harian model PHBK (morning circle, jurnal, pilar karakter, read aloud, kegiatan inti, dll). Rubrik ini digunakan dalam monitoring berkala dan menjadi dasar pembinaan guru. (5) SPMI Terpadu Mendorong Budaya Mutu Berkelanjutan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya mutu hanya dapat berkembang jika didukung kepemimpinan kepala sekolah yang efektif, kolaborasi, komitmen guru, serta sistem dokumentasi mutu yang rapi. 

Kolaborasi tersebut memperlihatkan bagaimana mahasiswa dapat terlibat langsung dalam proses penelitian akademik, mulai dari observasi, pengumpulan data, hingga analisis reflektif terhadap praktik pembelajaran. “Meskipun merasakan khawatir, cemas dan gugup, namun pengalaman mendapatkan data melalui wawancara narasumber mulai dari guru, kepala sekolah dan direktur sekolah menjadi bagian penting dari proses belajar Naora, (Saya) mendapatkan gambaran teknis untuk menyelesaikan penelitian skripsi saya nantinya”, Tutur Naora. terkait pengalaman belajar yang dirasakan saat dilibatkan dalam penelitian ini. 

IRECE 2025: Ruang Pertukaran Pengetahuan Global

Selama tiga hari, peserta konferensi berdiskusi mengenai berbagai isu penting PAUD, seperti, pedagogi bermain, pendekatan STEM untuk anak usia dini, pendidikan inklusif, teknologi dalam pembelajaran anak, permainan lokal sebagai sumber belajar, dan inovasi kurikulum dan penilaian.

Keikutsertaan Yudha Aviratri dan mahasiswa bimbingannya di IRECE 2025 menjadi bukti bahwa riset pendidikan di Indonesia semakin berkembang dan mendapat tempat di forum internasional. Penelitian ini tidak hanya memberikan kontribusi akademik, tetapi juga memperkuat praktik nyata di satuan PAUD. Selain itu, menunjukkan bahwa ada keinginan kuat untuk maju memperkuat budaya riset dan meningkatkan mutu pendidikan anak usia dini. Topik yang diusung juga menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar dalam melahirkan model mutu PAUD yang kontekstual, aplikatif, dan berkelanjutan. Penelitian ini menjadi momentum penting untuk mendorong PAUD di Indonesia membangun mutu internal sebagai kekuatan lembaga, bukan hanya pemenuhan standar akreditasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *